KALTIMHUB, BALIKPAPAN – Semangat kemerdekaan membara di lingkungan RT 84, Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, warga setempat menggelar upacara bendera secara mandiri, Minggu (17/8/2025), yang diikuti lebih dari 300 peserta dari berbagai usia.
Bertempat di halaman rumah warga, upacara berlangsung dengan penuh khidmat dan antusiasme. Anak-anak, remaja, hingga para orang tua berdiri tegak mengikuti rangkaian upacara, mencerminkan semangat patriotisme yang tulus dari akar rumput.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Lurah Karang Rejo Budi beserta istri, Kanit Harda Polresta Balikpapan Ipda Moch Faruq selaku inspektur upacara, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Mulia dan Universitas Mulawarman. Sejumlah tokoh masyarakat, pemuda, dan organisasi kemasyarakatan juga ikut ambil bagian.
Dalam amanatnya, Ipda Faruq membacakan pesan dari Wali Kota Balikpapan yang menekankan pentingnya mewarisi semangat juang para pahlawan.
“Delapan puluh tahun lalu bangsa ini memperjuangkan kemerdekaan untuk menentukan nasibnya sendiri. Semangat itu jangan sampai padam, harus kita wariskan kepada generasi penerus,” tegasnya.
Faruq juga menyinggung tema HUT RI ke-80: “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, yang sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045. Ia mengajak seluruh warga untuk menjaga persatuan dan turut berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Lurah Karang Rejo, Budi, memberikan apresiasi atas konsistensi RT 84 dalam menyelenggarakan upacara kemerdekaan setiap tahunnya sejak 2017, meski sempat vakum di masa pandemi. “Ini tahun keenam mereka melaksanakan upacara sendiri. Semangat seperti ini perlu kita dorong agar jadi agenda resmi kelurahan,” ujar Budi.
Ia juga menyampaikan bahwa RT 84 telah diajukan menjadi Kampung Pancasila, sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai-nilai nasionalisme dan gotong royong yang terus dijaga warganya.
Ketua RT 84, Sutaji, menuturkan bahwa inisiatif upacara ini lahir dari keinginan kuat warga yang tidak ingin momen 17 Agustus hanya berlalu sebagai hari libur biasa.
“Bukan karena saya, tapi warga yang minta agar upacara tetap digelar. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Ini bentuk kecintaan kami kepada Indonesia,” ungkapnya.
Meski sederhana, upacara ini menjadi simbol kekuatan komunitas—bahwa di tengah hiruk-pikuk perayaan skala besar, semangat kemerdekaan tetap hidup lewat aksi nyata warga di lingkungan masing-masing. (KHub)

