KALTIMHUB, BALIKPAPAN — Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan, sebuah gerakan kecil dari Kelurahan Karang Rejo, Kota Balikpapan, mulai menunjukkan dampak positif. Namanya sederhana: “Sedekah Sampah” — namun ide di baliknya menyimpan harapan besar untuk lingkungan yang lebih bersih dan masyarakat yang lebih peduli.
Gerakan ini merupakan buah dari Aksi Perubahan yang digagas oleh Adi Wahyudi, Kepala Seksi Ketentraman, Ketertiban dan Lingkungan Hidup Kelurahan Karang Rejo, sebagai bagian dari keikutsertaannya dalam Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan II Pusjar SKPP LAN RI tahun 2025.
“Gerakan ini awalnya fokus pada botol plastik. Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat agar sampah bernilai ekonomis ini tidak berakhir mencemari lingkungan,” ujar Adi Wahyudi, Selasa (16/9/2025).
Dalam dua bulan sejak diluncurkan, gerakan ini disambut antusias. Warga mulai rutin menyumbangkan sampah botol plastik ke keranjang-keranjang yang disediakan di lima titik pengumpulan. Botol-botol ini kemudian dipilah, dibersihkan, dan dipacking oleh tim pengurus Bank Sampah Adipura.
Koordinasi juga sudah dijalin dengan para pengepul lokal, meski untuk saat ini penjualan masih belum dilakukan karena proses pemilahan masih berlangsung.
“Nanti ke depannya, bukan hanya botol plastik saja. Kita akan terima kardus, kertas, kaleng, logam, dan jenis anorganik lainnya,” kata Adi optimis.
Bagi Adi, sedekah sampah bukan hanya upaya mengurangi tumpukan sampah. Lebih dari itu, ini adalah bentuk pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, bahkan ladang amal.
“Sampah yang disedekahkan bisa bernilai sosial ketika hasilnya digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan. Ini bagian dari amal jariyah,” jelasnya.
Gerakan ini juga memberi efek domino yang luar biasa—mengaktifkan kembali bank sampah yang sempat vakum, membangun semangat gotong royong, dan yang paling penting: mengubah pola pikir masyarakat terhadap sampah.
Sesuai dengan program pemerintah pusat, gerakan ini menargetkan pengurangan sampah plastik di masyarakat hingga 30-50 persen. Adi yakin, jika gerakan ini diperluas dan dijaga keberlanjutannya, angka itu bukan hal yang mustahil.
“Yang penting adalah konsistensi. Dan kami sudah membuktikan, dalam dua bulan pertama saja, dampaknya sudah terasa,” tegasnya.
Kini, semakin banyak warga Karang Rejo yang tak lagi membuang botol plastik sembarangan. Mereka tahu, di balik setiap sampah ada peluang—untuk lingkungan yang lebih bersih, untuk komunitas yang lebih kuat, dan untuk masa depan yang lebih hijau. (KHub)

