PPATBM Gunung Sari Ulu Gaungkan Program Zero ATS, Buka Jalan Anak Balik ke Sekolah

KALTIMHUB, BALIKPAPAN – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota, ada sekelompok warga yang bergerak senyap namun berdampak nyata. Mereka adalah para pegiat Forum Perlindungan Perempuan dan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PPATBM) Kelurahan Gunung Sari Ulu (GSU), yang kini tengah menjalankan Program Zero ATS (Anak Tidak Sekolah)—sebuah langkah berani demi memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari bangku pendidikan.

Ketua PPATBM GSU, Sumiati, menjelaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan akan masih adanya anak-anak yang tak lagi bersekolah. Melalui pendataan rutin setiap tahun, pihaknya menemukan bahwa masih ada 10 anak tidak sekolah, namun 8 di antaranya siap melanjutkan pendidikan.

“Kami tidak sekadar mendata, tapi juga menawarkan solusi nyata. Kami kolaborasi dengan SKB Balikpapan Tengah dan DP3AKB, menghadirkan guru ke tengah warga. Belajarnya di Kampung Pustaka, tempat edukasi berbasis komunitas di Jalan Gunung Rejo,” ungkap Sumiati, Kamis (18/9/2025).

Kini, delapan anak itu kembali bersemangat mengeja huruf dan menghitung angka. Kampung Pustaka pun bukan sekadar tempat belajar, tetapi simbol harapan yang tumbuh di tengah lingkungan.

Teguh Akbar, Kepala SKB Balikpapan Tengah, menyebut sistem pembelajaran yang diterapkan bersifat hybrid, menggabungkan tatap muka dengan belajar mandiri. “Kami masuk tiga hari dalam seminggu. Paket A (setara SD) belajar Selasa dan Kamis, Paket B (setara SMP) Rabu dan Kamis. Ini pendekatan yang adaptif agar anak-anak nyaman dan tidak merasa tertinggal,” jelasnya.

Menurut Teguh, program ini menjadi oase pendidikan bagi anak-anak yang pernah keluar dari sistem formal. Ia berharap pendekatan komunitas seperti ini bisa diperluas. Umar Adi, Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Balikpapan, menyebut Zero ATS sebagai salah satu program unggulan PPATBM di Balikpapan yang benar-benar menyentuh akar persoalan. “Setiap kelurahan punya inovasi khas. Di GSU ada Zero ATS, di Kelurahan Baru Ulu fokus ke penanganan kasus hukum anak, di Manggar punya Ruang Bermain Indonesia, dan di Klandasan Ulu ada program Calistung di Taman Bekapai,” papar Umar saat kunjungan monitoring di Kampung Pustaka.

Ia menambahkan, seluruh program ini bermuara pada satu tujuan: pemenuhan hak anak secara menyeluruh. “Kami ingin memastikan tidak hanya hak pendidikan, tapi juga hak bermain, perlindungan hukum, hingga partisipasi anak terpenuhi. Semua direncanakan, dipantau, dan dievaluasi secara konkret,” tutupnya. (KHub)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *