DP3AKB Balikpapan Perluas Edukasi Publik untuk Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak

KALTIMHUB, Balikpapan – Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) memperkuat kampanye kesadaran masyarakat terkait pencegahan dan penanganan kekerasan di berbagai lingkungan. Program ini menegaskan komitmen pemerintah membangun ruang aman bagi seluruh warga, khususnya perempuan dan anak yang rentan menjadi korban.

Plt. Kepala DP3AKB Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose, menekankan kekerasan dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, masyarakat perlu peka dan memahami tanda-tandanya sejak dini. “Kami mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran dan kepedulian bersama untuk mencegah serta menangani kekerasan. Kekerasan dapat terjadi di rumah, sekolah, hingga tempat kerja,” ujar Nursyamsiarni, Sabtu (15/11).

DP3AKB juga memperluas edukasi publik mengenai berbagai bentuk kekerasan yang sering tidak disadari. Selain kekerasan fisik, masyarakat diingatkan untuk mewaspadai kekerasan verbal, psikologis, seksual, ekonomi, hingga penelantaran. Edukasi ini penting agar kasus tidak dibiarkan berlarut-larut. “Kami ingin masyarakat mampu mengidentifikasi berbagai bentuk kekerasan, bukan hanya yang terlihat secara fisik. Kesadaran ini penting agar korban berani melapor lebih awal,” jelasnya.

Menurut Nursyamsiarni, banyak korban tidak melapor karena tidak menyadari bahwa mereka mengalami kekerasan. Untuk itu, DP3AKB memperkuat sosialisasi melalui posyandu, sekolah, RT/RW, dan komunitas warga. Pemerintah juga menyiapkan kanal pengaduan resmi agar pelaporan dapat dilakukan secara aman dan cepat. “Kami mendorong masyarakat berani melapor ketika melihat atau mengalami kekerasan. Pelaporan adalah bentuk perlindungan bagi korban maupun lingkungan sekitar,” tambahnya.

Setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti melalui pendampingan psikologis, hukum, hingga rujukan medis bila diperlukan. Nursyamsiarni menegaskan pencegahan kekerasan tidak dapat berjalan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas. “Kami mengajak tokoh masyarakat, guru, dan keluarga menciptakan lingkungan yang aman dan responsif. Pencegahan kekerasan membutuhkan kerja sama semua pihak,” pungkasnya. (KHub)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *